Have you ever heard the song "Senja di Kaimana" or "Sunset at Kaimana", popularized by Alfian? Kaimana has already known by the song because its sunset, but not only sunset that made it famous long time ago, Kaimana has many things can you enjoy, feel, and do. Kaimana is also known as the "Kingdom of Fish", "Last Best Place to Dive in the World" ect., so do not die before visit the Kaimana"
Selasa, Juni 29, 2010
Pesona Danau Siviki
Danau Siviki dapat dicapai melalui kota Kaimana dengan longboat atau speedboat. Perjalanan dengan longboat dapat ditempuh dengan waktu sekitar 3 hingga 3,5 jam perjalanan, sedangkan jika menggunakan speedboat, akan lebih cepat mencapai danau atau sekitar 1,5 hingga 2 jam. Sebelum masuk ke Danau akan dijumpai Kampung Urisa di mana kita dapat menyaksikan penduduk lokal memancing kepiting dengan cara mereka sendiri.Secara Etika kita harus mampir ke kampung tersebut dan memberitahu Kepala Kampung atau orang-orang tua di kampung tersebut sebelum ke Danau, dan biasanya ada guide lokal yang diikutkan bersama kita. Perjalanan dari Kampung Urisa ke danau akan melalui sungai Urisa hingga tembus ke Danau Siviki. Sebaiknya Perjalanan ke Danau dimulai pagi sebelum matahari terbit agar kita dapat menyaksikan dari danau matahari terbit dari balik Gunung Fudi. Seiring dengan terbitnya matahari, anda juga akan menikmati kicauan burung-burung khas Papua seperti Rangon, Kakatua Putih, Cenderawasih, dll. Dari balik Gunung Fudi yang menancap sampai ke dasar danau, matahari bersinar menembus pepohonan rindang hingga menghunjam ke atas air danau, di beberapa sisi danau bunga-bunga teratai terhampar bak permadani dihiasi kawanan burung bangau dan beberapa jenis burung kecil berparuh merah yang berganti-ganti warna jambulnya, sedang di sisi belakang bunga teratai, pohon bakau dan nipah berderet bagaikan pagar yang tertata rapi, lukisan ini akan terasa lebih sempurna ditambah gugusan pohon-pohon rindang hutan hujan tropis yang mengelilingi danau bak sebuah wallpaper yang sempurna. Anda mungkin akan bertanya jenis air apakah air danau ini karena disisi lain ada hutang bakau yang menandakan air asin atau payau, sedang di sisi lain ada bunga teratai yang menandakan air tawar, tetapi itulah fenomena alam yang menjadi daya tariknya. Jika anda ingin mancing, pilihan ini akan menjadi aktivitas tersendiri yang menarik sambil memanti matahari terbit tinggi dari balik Gunung Fudi atau bagi anda yang senang menonton burung, aktivitas ini dapat dilakukan di tepi danau hingga menjelang siang. Sehabis aktivitas di danau, anda dapat pula menyusuri sisi sungai yang lain dengan longboat. Di sini anda akan disuguhi pemandangan di sisi kiri nipah, bakau dan teratai, sedang di sisi kanan tebing-tebing batu putih dan beberapa gua yang menarik, diantaranya gua yang dapat diakses langsung dengan perahu ke dalamnya,tapi jangan lupa membawa penerang/senter karena sangat gelap dan banyak burung yang dapat membahayakan anda. Di dalam gua ini, kelihatan air mendidih dari bawah ke atas. Diperkirakan gua yang masuk ke dalam danau ini adalah lubang dari kawah gunung berapi (Gunung Genova)yang dulunya aktif. Menurut kisah masyarakat di Kampung Urisa, pernah terjadi seorang nelayan asal kampung tersebut menikam ikan bubara (GT) dengan menggunakan penikam (kalawai), ikan tersebut berenang dengan penikan tersebut masuk dalam gua tersebut, beberapa hari kemudian, orang-orang di Kampung Wanoma, kampung di balik Gunung Genova menemukan ikan dengan penikam tersebut. Hal yang mustahil jika ikan tersebut dapat mengembara sejauh itu. Perlu diketahui pula bahwa di depan Kampung Wanoma, tepat di sisi sebelah timur Gunung Genova terdapat pula lubang besar yang juga masuk ke dalam laut dimana di dalamnya mengalir air belerang. Hal ini makin menguatkan dugaan bahwa Gunung Genova dulunya adalah gunung api yang aktif namun karena laharnya mengalir ke dalam lubang tersebut sehingga statusnya kini bukan sebagai gunung api. Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang tempat ini. Di Danau ini juga terkenal dengan buayanya, bagi anda yang suka petualang, Danau Siviki dapat menjadi salah satu destinasi anda.
Selasa, Juni 22, 2010
Kaimana Berbenah Diri Membangun Pariwisata
Telah lama sejak Kabupaten Kaimana terbentuk --- atau paling tidak sejak adanya pelimpahan urusan pariwisata pada Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kaimana --- pembangunan pariwisata hanya dilakukan secara parsial tanpa arah dan keterpaduan dengan sektor pendukung lainnya. Katakanlah misalnya proyek pembangunan Obyek Wisata Tirta Kali Air Tiba, dilakukan tanpa koordinasi dengan PU tentang rencana pembangunan jembatan Air Tiba dan juga ketinggian air pasang dan surut, atau paling tidak informasi tentang Rencana Tata Ruang Wilayah harus diketahui sehingga dapat disesuaikan pembangunannya. Masih banyak lagi kasus serupa, misalnya Proyek Kali Moman, Proyek Pantai Air Merah yang dibangun Pemerintah Distrik Kaimana, dan lainnya. Semua ini menunjukkan tidak adanya perencanaan pembangunan pariwisata yang baik. Dampaknya adalah, walaupun anggaran yang digunakan sudah cukup besar, namun pembangunan pariwisata belum menemukan hasil, paling tidak hasil yang dapat dinikmati oleh wisatawan lokal Kaimana.
Menyadari akan hal tersebut, mulai tahun ini,Pemerintah Kabupaten Kaimana mulai mencoba untuk menyusun Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah setelah adanya Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kaimana. Penyusunan RIPPDA yang bekerjasama dengan Pusat Studi Pariwisata UGM ini dimaksudkan agar dapat menjadi acuan pembangunan pariwisata, termasuk di dalamnya adalah pembagian kawasan strategis pariwisata, pengaturan keterlibatan sektor lain, dan analisis segmen pasar serta metode promosi. Keluaran akhir dari RIPPDA ini adalah draft akademis PERDA yang selanjutnya melalui mekanisme legislatif akan ditetapkan sebagai Peraturan Daerah.
Tetapi, RIPPDA saja belum final karena hanya bersifat umum. Kita masih harus menyusun RIPOW (Rencana Induk Pengembangan Obyek Wisata) yang mengarahkan obyek wisata unggulan untuk dikembangkan sesuai dengan daya tariknya dan kesesuaiannya dengan segmen pasar. Nah, untuk ini kita belum berharap banyak tentang segmen pasar Wisman tetapi sasarannya masih pada wisatawan lokal dalam kota, paling tidak ada sebuah obyek wisata yang representatif dan menjadi pusat hiburan masyarakat kota Kaimana dan sekitarnya pada hari-hari libur, karena hiburan juga merupakan kebutuhan dan salah satu unsur kesejahteraan masyarakat. Kalau itu sudah tercapai barulah kita berpikir untuk orang lain. Langkah selanjutnya setelah menyusun RIPOW adalah menyusun DED (Detail Engineering Design) atau Rencana Tapak Kawasan. Langkah terakhir yang dilakukan setelah DED adalah penyusunan Rencana Teknis yang terdiri dari Gambar Kerja, Rencana Kerja dan Syarat-syarat serta Rencana Anggaran Biaya.
Dengan memperhatikan mekanisme perencanaan pariwisata sebagaimana tersebut di atas, nampaknya kita membutuhkan waktu paling tidak 2 (dua) tahun lagi untuk menyelesaiakn seluruh dokumen perencanaan sebelum membangun obyek-obyek yang strategis dan prioritas. Apakah tidak terlalu lama? Tentu tidak karena sambil jalan, beberapa obyek yang sudah ditetapkan dalam satu kawasan pariwisata sudah dapat didesain dan dibangun. Ini akan lebih baik daripada kita menghambur banyak uang dalam pembangunan pariwisata yang tidak terarah. Sebagai contoh, kami sampaikan bahwa sejak tahun 2006 hingga tahun 2010, kita telah menghabiskan uang sekitar Rp. 7,2 Milyard untuk membangun sektor kebudayaan dan pariwisata, namun sampai dengan hari ini kalau kita tanya pada masyarakat Kaimana "Apa yang telah kita peroleh? jawabannya sudah pasti "belum ada yang kita peroleh". Ini tantangan bagi pimpinan dan segenap pegawai Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kaimana. Ayo bekerja untuk negerimu***
(Keterangan:(kiri)Danau Siviki di Teluk Arguni, (kanan) Gua alam dalam danau (Danau Siviki) yang dapat dimasuki dengan longboat dan sejenisnya. Gua ini belum dieksplorasi. Foto oleh Jafar Werfete)
Rabu, Mei 27, 2009
Pengantar Laporan Penelitian Sejarah Kaimana Tahap I oleh Koordinator Tim Sejarah Kaimana

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kegiatan Penelitian Sejarah Kaimana selama tiga tahap, kegiatan yang dilakukan pada Tahun Pertama atau Tahap I ini adalah pengumpulan data dan pemetaan sumber-sumber primer sejarah melalui arsip-arsip, baik Arsip Nasional/ANRI (Jakarta) maupun arsip-arsip lainnya seperti Pusat Penerangan TNI-AD, dan lain sebagainya; sumber sejarah lisan yang dapat dikumpulkan melalui wawancara mendalam di berbagai kampung di kabupaten Kaimana; sumber-sumber sekunder berupa laporan, buku dan hasil penelitian tentang masyarakat dan wilayah Kaimana
Dari kunjungan dan cerita-cerita orang tua dan pelaku sejarah, selain memperoleh cerita dari perspektif kampung, kami bisa merasakan lumpur dan sulitnya air, tantangan alam dan waktu yang seperti beku. Cerita-cerita itu akan dipadukan dengan wawancara tokoh dan pelaku sejarah di Kota Kaimana. Sejarah lisan ini akan dijahit dengan data arsip yang dikumpulkan oleh Harto Yuwono di Arsip Nasional RI dan oleh saya sendiri di Nationaal Archief di Den Haag Belanda. Pengalaman lapangan sangat penting untuk membantu kami berimajinasi tentang Kaimana di masa lalu.
Kami menyadari, pada masyarakat tradisional “sejarah” itu salah satu sumber kekuasaan terpenting. Oleh karena itu sejarah kebanyakan telah menjadi mitos yang diolah dari imajinasi dan kepentingan kontemporer klen atau kelompok masyarakat masing-masing, khususnya para tua-tua adat atau pemimpin yang dominan. Oleh karena itu sejarah sering dikategorikan sebagai tabu untuk diceritakan secara terbuka dan diketahui oleh segelintir orang-tua saja. Sulit bagi orang luar untuk mendapatkannya begitu saja.
“Sejarah” itu bisa digunakan sebagai alat untuk menentukan siapa penduduk asli dan siapa pendatang. Sejarah dapat digunakan untuk melegitimasi siapa yang berhak atas suatu wilayah tertentu. Sejarah pula yang digunakan sebagai dasar bagi suatu kelompok atas hak untuk membuat sasi laut dan menentukan kapan akan diakhiri. Sebaliknya sejarah dapat pula digunakan untuk menyangkal hak-hak kelompok yang dominan atau yang didominasi. Sejarah juga bisa menjadi alat untuk memusuhi dan membalas dendam atas kejadian di masa lampau.
Dengan menyadari sisi-sisi politis sejarah yang disebutkan di atas, Tim LIPI akan mencoba menyusunnya dengan hati-hati dan se-independen mungkin. Sejarah yang sedang dikerjakan ini diusahakan dibuat dengan mengikuti kaidah metodologis dan historiografi yang baku. Yang terpenting, setiap anggota Tim harus berani menulis sejarah ini dengan jujur dan siap untuk bertanggungjawab secara akademis jika analisis yang dibuatnya disanggah atau ditentang oleh para “pemilik sejarah”.
Saya membayangkan sejarah Kaimana yang mendalam itu seperti piring besar kuno yang indah, gong, lela, dan lain-lain yang sudah tersembunyi dan berkubang dengan lumpur Arguni yang pekat. Kita harus siap bermandi lumpur dan terik panas, mengorek dan membongkar lumpur, untuk menemukan harta sejarah itu. Dengan itu mungkin kita bisa menemukan kembali dan mengerti arti lela, gong, atau piring besar yang sudah terkubur dan terlupakan itu.
Kepada semua pihak yang telah membantu Tim Sejarah Kaimana, terutama Drs. Muhammad Saleh Inan, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kaimana dan staff, tokoh-tokoh masyarakat yang telah berbagi cerita kepada kami, dan pihak-pihak lainnya yang tidak sempat kami sebutkan namanya satu persatu, kami sampaikan terima kasih.
Jakarta Medio Desember 2009
Koordinator Tim Sejarah Kaimana,
Dr. Muridan S. Widjojo
Sambutan atas Laporan Penelitian Sejarah Kaimana Tahap I
SAMBUTAN
KEPALA DINAS PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA
KABUPATEN KAIMANA
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji Syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya Tim Sejarah Kaimana dapat menyelesaikan Tahap I Penelitian Sejarah Kaimana tahun 2008.
Perubahan yang radikal terhadap aspek sosial ekonomi dan politik masyarakat di Kaimana, telah menyebabkan terkikisnya masayarakat di daerah ini dari akar sejarah dan budayanya. Kondisi ini terus diperburuk dengan hilangnya catatan-catatan tentang sejarah budaya yang merupakan identitas atau jati diri mereka. Tantangan ke depan adalah apakah generesi penerus kita akan dapat mengenal identitas kultural mereka?
Saya menyambut baik hasil yang telah diperoleh pada Tahap I Penelitian Sejarah Kaimana yang dilakuakn oleh Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI Jakarta. Penelitian ini tentu akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan daerah Kaimana. Saya berharap hasil penelitian ini dapat menjadi semacam “buku putih” atau menjadi sumber rujukan sejarah masyarat Kaimana dalam berbagai aspek kehidupan. Saya juga berharap hasil penelitian ini kiranya tidak menjadi alat bagi kelompok-kelompok masyarakat untuk saling menghakimi tetapi lebih diharapkan hasil penelitian ini akan menjadi alat untuk menerima fakta sejarah dan kenyataan masa lalu serta mengambil hikmah atau semangatnya bagi membangaun generasi Kaimana yang lebih solid dan bermartabat di masa yang akan datang.
Oleh karena itu, mari kita berikan dukungan yang baik kepada Tim LIPI agar dapat menyelesaikan penelitian ini secara obyektif dan ilkmiah. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu Tim Sejarah Kaimana dalam upaya merajut “benang-benang” sejarah Kaimana dalam konteks perkembangan masyarakat Papua dan bangsa Indonesia, atas nama pribadi maupun jabatan, saya ucapkan terima kasih.
Semoga Allah SWT selalu menolong kita dalam segala tugas kita.
Wassalam,
Kaimana, Desember 2009
Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan
dan Pariwisata Kabupaten Kaimana,
Drs. MUH. SALEH INAN
Kamis, Maret 12, 2009
Penelitian Sejarah Kaimana
Jumat, November 07, 2008
Kaimana Underwater
Kaimana selain dikenal karena senjanya yang indah ,Kaimana juga di kenal sebagai Kerajaan Ikan, karena, memiliki 937 jenis ikan karang, termasuk 14-16 jenis baru dan endemis/khas Kaimana. Selain ikan, Kaimana juga memiliki sekitar 492 jenis karang, termasuk 6 jenis baru yang juga endemis Kaimana serta terdapat 27 jenis udang mantis, termasuk 3 spesies baru, 2 di antaranya endemis Kaimana. Hal lain yang menarik adalah, bahwa dalam waktu sekitar 3 hari menyelam, dapat menemukan 16 ekor penyu hijau, dan 14 ekor penyu sisik serta dapat melihat rata-rata 6 penyu bertelur dalam semalam.Secara umum, kondisi terumbu karang pada site-site pengamatan yang dilakukan oleh Conservation International, maupun Universitas Negeri Papua (UNIPA), masih relative baik, artinya Kaimana masih memiliki kondisi terumbu karang hidup pada kategori sedang hingga paling baik.
Selasa, September 23, 2008
Sisa Peninggalan Jaman Mezolitikum di Kaimana
Salah satu peninggalan prasejarah jaman mesolitikum yang masih tertinggal di Kaimana adalah lukisan dinding batu gaya Tabuniletin. Lukisan-likisan ini masih menyimpan misteri dan keunikan yang seakan menceritakan suatu jaman dengan suatu kehidupan tertentu. Lukisan-lukisan ini, dapat dijumpai di sekitar Teluk Triton dan Teluk Bisyari, Distrik/Kecamatan Kaimana atau di sekitar Kampung Maimai, Sisir, dan Namatota. Daya tarik Kaimana Rock Painting ini terletak pada letak dan bahan pewarna yang digunakan. Letak lukisan-lukisan ini terdapat pada tebing-tebing batu yang tinggi dan secara akal sehat manusia tidak mungkin dijangkau-apalagi teknologi
jaman itu. Bahan cat atau pewarna yang digunakan hingga kini masih misteri, umumnya lukisan-lukisan ini berwarna merah darah dan hingga hari ini tak pudar dimakan jaman.Untuk informasi lebih lanjut, klik saja http://kaimanatour.blogspot.com
Fort Du Bus 1828, Bukti Resmi Pertama Kekuasaan Belanda atas Pulau Nieuw Guinea
Benteng Fort Du Bus diresmikan pada tanggal 24 Agustus 1828 sebagai bukti kekuasaan resmi Pemerintah Belanda atas Pulau New Guinea. Bertepatan dengan tanggal peresmian benteng tersebut, 24 Agustus, yang merupakan hari peringatan ulang tahun Raja Belanda Willem III yang diperingati setiap tahun, bertempat di kampung kecil bernama Lobo yang terletak di Teluk Triton ( Nama Teluk Triton dinamakan menurut nama Kapal corvet, Triton, yang ‘menemukan’ teluk tersebut. Nama asli teluk tersebut adalah Uru Lengguru), pada garis lintang 3˚42’ LS dan garis meridian 134˚15’4”, diresmikan sebuah benteng bernama Fort Du Bus. Pada saat itulah komisaris pemerintah Belanda, Van Delden membacakan proklamasi kekuasaan Belanda atas wilayah Nieuw Guinea.
Proklamasi tersebut berbunyi sebagai berikut: “Atas nama dan untuk Sri Baginda Raja Nederland, Pangeran Oranje Nassau, Hertog Agung Luxemburg dll, bagian dari Nieuw Guinea, serta daerah-daerah di pedalaman yang mulai pada garis meridian 141˚ sebelah timur Greenwich di pantai selatan dan dari tempat tersebut ke arah barat, barat daya dan utara sampai ke Semenanjung Goede Hoop di pantai utara, selain daerah-daerah Mansarai, Karondefer, Amberpura dan Ambarpon yang dimiliki oleh Sultan Tidore, dinyatakan sebagai miliknya.”
Upacara pada tangal tersebut di atas dianggap di Eropa sebagai tanda bahwa sejak waktu tersebut Belanda memiliki kedaulatan atas wilayah yang dinyatakan dalam proklamasi tersebut, sehingga wilayah tersebut tidak boleh lagi ditempati oleh kekuasaan-kekuasaan Eropa lainnya. Benteng tersebut pada tahun 1835, atas persetujuan pemerintah Belanda dibongkar karena ternyata perubahan-perubahan iklim dan pemondokan yang disediakan tidak memenuhi syarat sehingga mengganggu kesehatan prajurit Belanda yang ditugaskan menjaga benteng tersebut.